ALMUZZAMMIL PEARSON DAY

Dalam rangka perbaikan mutu pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia dan bahkan dunia, Longman Pearson mengadakan event Pearson Day bagi para educator di Indonesia untuk lebih memudahkan capaian yang hendak diraih Longman Pearson dalam buku yang duterbitkannya. SDIT ALMUZZAMMIL menjadi bagian dari peserta event tersebut karena hand book Bahasa Inggris untuk siswa-siswinya menggunakan buku yang dirancang oleh Longman Pearson.

Oleh karena itulah SDIT mengutus guru bidang studi Bahasa Inggris untuk ikut serta dalam acara Pearson Day yang diselenggarakan oleh Longman Pearson ltd, Singapore. Longman Pearson merupakan lembaga resmi yang memberikan pelatihan kepada guru atau sekolah yang menggunakan buku-buku yang diterbitkannya.

Pearson Day merupakan sebuah event yang sengaja dirancang untuk mempertemukan semua guru di Indonesia untuk sharing terhadap pelaksanaan kurikulum yang menjadi sasaran atau target yang akan dicapai oleh Longman Pearson dalam setiap buku dan level yang dibuatnya.

Tanggal 16 Oktober 2010 acara Pearson Day berlangsung di Twin Plaza Hotel Jl. S.Parman Jakarta Barat.

Agenda acara pada Pearson Day kali ini dibagi ke dalam beberapa kategori antara lain; welcoming speech oleh Michelle Lombard, President Pearson Education South Asia kemudian disusul oleh pembicara pertama oleh Frasser Cargil dengan tema Assessing English Language Competency-Making Learning & Assessing English Language Competency in Children Interesting and Fun: An Introduction to PTE Young Learner Tests. Agenda selanjutnya adalah  21st Century Teaching for Young Learners yang disampaikan oleh Beat Eisele.

Acara Pearson Day tersebut dihadiri oleh para peserta dari dalam dan luar DKI. Mereka seluruhnya adalah para guru atau kepala sekolah yang memakai buku terbitan Longman Pearson. Tidak kurang dari 150 guru atau peserta mengikuti acara yang sangat penting itu.

Dalam agenda pertama, Frasser lebih mengetengahkan teknik pembuatan soal test kedepan dengan 4 kriteria utama. Pertama, Scenario Approach yang menurutnya lebih memimiliki makna. Kedua, Can Do Approach dimana dalam pelaksanaannya guru atau mentor disarankan untuk memberikan reward achievement terhadap siswa yang mampu melakukan pendekatan test dengan baik. Ketiga, Communicative Paramount, dank e-empat, criteria soal test harus dapat membangun rasa senang siswa; Children Enjoy The Exam.

Frasser kemudian menjelaskan criteria waktu pengerjaan test yang diberikan siswa untuk setiap item test tidak lebih dari 1 jam. Level Test ( dalam konteks Indonesia item),  menurut Frasser hendaknya mengandung 4 unsur pencapaian (Future Works, Springboard, Quick March dan Breakthrough)

Dalam Listening Test, methode yang disampaikan Frasser telah banyak diterapkan juga oleh buku-buku berbahasa inggris lain. Dia memberikan model Listening Test dengan memberikan dialog beserta gambar. Penekanan capaiannya adalah memberikan pemahaman siswa terhadap gambar dan kalimat yang sesuai dengan gambar.

Dalam Matching Test Model, Frasser menjelaskan bahwa untuk kelas I,2 dan 3 sebaiknya menggunakan criteria Matching Utterance To Picture, mencocokkan ungkapan atau kalimat dengan gambar sedangkan untuk kelas 4, 5 dan 6 sebaiknya test lebih kepada mencocokkan bagian kalimat (Matching Halves Of  Sentences). Look at the galleries——–>

Dalam model Writing Test,  untuk kelas lower (1,2 dan 3) mencocokkan kalimat dengan percakapan singkat atau gambar dengan kalimat.

Untuk Oral Test, materi dapat berupa Board Game artinya, speaking test ini tidak melulu praktek bicara dengan materi hapalan yang telah diberikan guru atau penguji. Board Game merupakan model test dimana siswa bisa menggunakan kemampuan bicaranya dengan cara bermain dengan alat bersama teman yang lain. Selain dengan Board Game, model uji kemampuan oral test siswa juga bisa dilakukan dengan Card Game.

Menjawab pertanyaan floor, mengenai pronounciation, Frasser dalam kesempatan itu menjelaskan bahwa pronounciation adalah pola intonasi (Intonation Patterm). Untuk mencapai fluent pronounciation katanya  hendaknya orang tua yang juga menurutnya bagian dari Golden Learning Triangle harus membiasakan berbicara dengan bahasa inggris kepada anak-anaknya di rumah.

Termin dan agenda ke dua Pearson Day 16 Oktober yang bertempat di Hotel Twin Tower Slipi itu dilanjutkan oleh Beat Eisele. Beliau mengupas tentang “Pengajaran Abad 21 Bagi Pembelajar Pemula”. Beat dalam pengantarnya mengatakan, “Having the children not to prepare the test but having them prepare the learning process”.

Berikutnya, Beat menggagas model pembelajaran yang dikedepankan Longman Pearson dalam buku “HORAY” dengan classic stories. Menurutnya, pengajaran dengan model bercerita akan mempermudah guru menerapkannya dan menyenangkan kelas. Lalu dalam memberikan pelajaran katanya lagi, hendaknya guru melakukan langkah perlahan; step by step. Jangan berikan pembelajaran dengan materi yang memberatkan siswa sehingga menimbulkan kejenuhan. Beliau menganalogikan methode ini dengan aktivitas renang. Bila, katanya- kita menempuh sebuah pulau dengan melakukan renang dengan sekali waktu tempuh, maka yang terjadi adalah sebuah kelelahan dan akan berakibat buruk bagi pelakunya. Namun, katanya-bila dilakukan dengan bertahap, maka kita bisa bersantai sejenak dan memberi siswa untuk menghilangkan rasa jenuh belajar.

Beat mengulang kembali menganai Golden Learning Triangle yakni guru, orang tua dan murid. Dalam proses pembelajaran tiga sudut ini harus memiliki sinergi yang saling terkait. Khusus untuk methode classic story ini, orang tua bisa berperan dengan membacakannya untuk anak-anak di rumah.

Sebelum memasuki materi pokok tema dan bahasan, Beat mengingatkan pentingnya Warming-Up. Warming-up di sini buakan pemanasan seperti dalam olah raga tetapi lebih kepada daya pikat guru terhadap siswa untuk merangsang siswa memasuki pelajaran. Hal ini perlu karena mampu menurutnya membantu siswa “shift into English lesson”. Berpindah atau bergeser kepada pelajaran. Warm-up yang dimaksud Beat adalah music atau lagu. Hal ini katanya, akan menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dengan efek positif siswa dengan kondisi mentalnya yang juga lebih relax.

Untuk meningkatkan aktivitas peningkatan vocab siswa, Beat mengambil flash card yang sangat penting dalam proses belajar di kelas. Namun dalam praktek, guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang hidup dan tidak menjenuhkan siswa. Beat kemudian dengan atraktif mencontohkan bagaimana seorang guru menggunakan flash card dengan mentalitas prima dan wajah yang ceria. Lalu sebaliknya, Beat mencontohkan guru yang tidak menyatu secara mental saat mengajarkan vocab dengan mimic dan wajah yang lesu. Pesertapun terbawa dan kemudian terpingkal-pingkal karena perbedaan kontras yang dicontohkan Beat tersebut sangat Indonesia sekali.

Dalam proses pengajaran vocab, kita menurut Beat dapat menggunakan pearalatan sederhana yang terdapat di lingkungan kelas atau sekolah. Beat kemudian mengambil sebuah balon. Dalam pelajaran vocab, guru bisa menggunakan balon sebagai alat belajar. Beat kemudian memberi petunjuk teknik secara ataraktif. Balon katanya dilepas di kelas dan setiap siswa bertanggung jawab untuk tidak membiarkan balon tersebut jatuh ke lantai. Saat balon terlempar ke atas, siswa diminta untuk menyebut benda benda atau kata kerja yang akan diajarkan dsb.Selain balon, sapu, tisu, bola ping-pong dan amplop juga dapat dijadikan alat untuk pengajaran kelas yang sesuai dengan kelas dan usia anak.

Beat dalam makalah akhirnya kemudian menekankan kepada peserta betapa encouragement itu memainkan peran penting dalam proses pembelajaran. Beat selalu menyentuh dadanya dengan tangan sebagai pertanda pentingnya hati untuk sebuah proses pembelajaran.

Dua pemateri dengan makalahnya dalam Pearson Day tersebut menjadi masukan bagi furqon Bunyamin Husein yang menjadi duta dari SDIT Al-Muzzammil. Semoga pengalaman dan diskusi dengan mereka dapat dipraktekan dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris di SDIT Al-Muzzammil.

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s